Jawi Kalupak Balang Pandai dan Balang Puntuang Cikal Bakal Pacu Jawi di Tanah Datar

  • PDFPrintE-mail
pacu_pdgpjgprgTanah Datar -- Alek Pacu Jawi merupakan tradisi anak nagari yang sudah turun temurun sejak zaman dahulu, di empat kecamatan di Tanah Datar yaitu Kecamatan Pariangan, Rambatan, Lima Kaum, dan Sungai Tarab. Tradisi ini lahir dari masyarakat yang merupakan evoria hiburan usai panen padi. Ibarat pepatah Minang tradisi pacu jawi "mambasuik dari bumi indak titiak dari langik", jadi lahir dari rakyat, untuk hiburan rakyat. Ini harus dipertahankan sebagai budaya anak nagari. Hal tersebut disampaikan Ketua Pelaksana Alek Pacu Jawi Arisno Dt. Indomo, pada saat penutupan Alek Pacu Jawi di Padang Panjang Bawang Nagari Tuo Pariangan, Sabtu lalu (21/10).
Dt. Indomo jelaskan, "Alek Pacu Jawi ini lahir di Nagari Tuo Pariangan, yang diawali di sawah pancuang talang dan dilanjutkan di sawah piula lidi kepunnyaan Dt. Maharajo Depang dan jawi yang partamo pacu adolah jawi kalupak balang pandai dan balang puntuang, itulah asal muasalnya", sebut Dt. Indomo.
Ia katakan, pacu jawi ini juga merupakan pendidikan bagi anak kemenakan, "di dalam sawah batali bajak, di lua batali adat, barapik bukan bageso, baganggang bukan bacarai ini menurut adat", maka dari itu tradisi ini terus dilestarikan ucapnya.
Dikatakannya lagi, "Alek pacu jawi di Nagari Pariangan tagak marawa, ibarat marawa tagak, rajo bajalan, barakyat, bapangulu, tagak basisampiang," jadi hal-hal yang terjadi pada alek nagari ini diselesaikan secara niniak mamak, ucapnya.
Untuk itu kedepan acara adat ini tetap kita pertahankan, disamping saat ini juga sudah dilakukan berbagai pembenahan pada objek-objek wisata yang ada di Nagari Tuo Pariangan, nagari terindah didunia, sambung dt. Indomo.
Sementara itu Wakil Bupati Tanah Datar Zuldafri Darma, yang menutup secara resmi Alek Pacu Jawi tersebut juga menyampaikan harapannya untuk selalu melestarikan tradisi anak nagari itu. Dan jika diadakannya alek pacu jawi ini maka mari pelihara adat, mari kita lestarikan jangan sampai dikurangi bahkan sampai dihilangkan seperti halnya sebelum alek ini dimulai, ada alua pasambahan, makan bajamba terlebih dahulu, dan pada saat jawi berpacu ada juga pertunjukan tari piring, silat dan berbagai prosesi adat lainnya, ini adat dan tradisi, mari kita jaga bersama, ucap Zulfaridarma.
Pada panitia dan nagari-nagari yang masih tetap melestarikan alek pacu jawi ini Wakil Bupati atas nama Pemerintah Daerah mengucapkan terima kasih dan beri apreseasi. Kegiatan alek yang sudah turun-temurun ini kaya tradisi, sehingga anak kemenakan dan generasi muda kita cinta serta memahami prosesi adat tersebut, ucapnya.
Ada kecenderungan yang bisa saja terjadi, pengaruh arus globalisasi dan kemajuan teknologi yang menjadikan generasi penerus kita terlena, sehingga tradisi adat tidak lagi menarik buat mereka, sehingga mereka tidak paham akan tatanan adat tradisi yang sudah diwariskan leluhur kita, tukas Zuldafri.
Seperti saat ini acara alek kita ini yang diliput langsung salah satu stasiun televisi dari Jepang, yang ingin sekali mengetahui tatanan kehidupan di daerah kita yang penuh filosopi, ini justru membuat kita bangga, keunikan kita menjadi menarik bagi negara lain, dan tentu kegiatan kita ini akan populer di dunia pungkas Wabup Zuldafri Darma.
Turut hadir pada acara penutupan alek pacu jawi tersebut, Kepala OPD, Forkopimca, Pj. Wali Nagari, Wali Nagari Pariangan terpilih, Niniak Mamak dan tokoh masyarakat (Irfan F).
Sumber : 
http://www.pasbana.com/2017/10/jawi-kalupak-balang-pandai-dan-balang.html?m=1
hotlinee

ROUTE TOUR DE SINGKARAK 2017


ayo_wisata_ke_tanah_datar